Bicara soal
pemilu 2014 adalah bicara tentang pemilu yang menyedihkan dan membuat
penasaran. Menyedihkan karena pemilu ini sepi, senyap, gegap gempita hanya di
kampanye saja itupun tidak se-“gebyar” tahun 2004 atau 2009. Mengingat Presiden
Susilo Bambang Yudhiyono saat sambutan awal tahun 2014 tidak membahas pemilu
sama sekali juga salah satu indikator bahawa pemilu itu senyap. Membuat penasaran
ialah saat orang-orang menanti, apakah “Jokowi Effect” terjadi atau tidak, dan
kenyataannya, tidak terjadi karena perolehan suara PDIP tidak seperti survey
internal PDIP yang kurang lebiih 23%-an namun kenyataan hanya 19%, itu suatu
bukti bahwa “Jokowi Effect” tidak terjadi. Ngomong-ngomong soal Jokowi Effect,
itu adalah partai atau caleg yang menampilkan wajah Jokowi, suaranya
menggelembung naik.
Bicara soal
caleg, banyak caleg 2014 yang tanpa komitmen untuk menyejahterakan rakyat. Ada nama yang disebut dalam persidangan menerima
sejumlah uang, ada yang tercatat sebagai bekas terpidana kasus korupsi, juga
ada yang ingin membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Para caleg tersebut
di antaranya terlibat korupsi, melanggar HAM, pelecehan seksual, dan kekerasan
dalam rumah tangga. Kampanye caleg yang dimulai 16 Maret dan berakhir 5
April 2014, sama sekali tidak menarik bagi para pemilih. Kampanye hanya
menambah kesemrawutan jalan dengan jutaan atribut kampanye, membuat kemacetan,
sampah dimana-mana. Kebanyakan yang ikut kampanye juga karena adanya uang sogok
dari tim sukses partai atau caleg tersebut. Jadi bagi mereka yang ikut
kampanye, mungkin hanya meramaikan jalanan yang penting dapat uang dan tidak
memperdulikan siapa caleg atau partainya.
Tidak ada yang gratis di dunia
ini, terlebih jika terkait dengan urusan politik di Indonesia ini.
Maka saat seorang calon anggota legislatif (caleg)
dituntut mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya, harus siap keluar banyak dana
untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan tim suksesnya. Seorang caleg secara
mendadak dipaksa atau terpaksa menjadi dermawan. Memberi macam-macam kebutuhan
rakyat seperti sembako, al-quran, kerudung, obat-obatan, kaos hingga uang tunai
yang biasanya perorang sampai 50ribu. Pemberian tersebut kepada masyarakat dimaksudkan
supaya beliau menjadi seorang dewan besar Indonesia yang bekerja di gedung unik
di daerah terkenal di Jakarta Pusat. Dan pemberian itu semata-mata hanyalah
sebuah pencitraan.
Seadaannya
saya jadi caleg saya akan berkampanye lewat media sosial, seperti twitter,
facebook, path, instagram, bahkan ask.fm dan membuat video program saya
nantinya di YouTube, karena kebanyakan rakyat lebih peduli dengan lingkungannya
di dunia maya daripada dunia nyata. Lewat sosial media, kampanye dapat nonstop
24 jam, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat calon pemilih yang kebanyakan
pegguna sosial media apalagi para pemilih pemula atau pemilih muda. Kampanye lewat
sosial media juga tidak terlalu mengeluarkan dana yang tidak penting seperti
untuk baliho atau sepanduk yang akhirnya hanya menjadi sampah yang menempel di
jalan raya atau di pohon-pohon yang mengganggu lingkungan. Selain itu saya juga
akan blusukan turun ke lapangan, ke pasar, ke pelabuhan, ke perkampungan,
berhadapan langsung dengan rakyat tapi tanpa sogok-sogokan atau serangan fajar.
Percuma adanya serangan fajar, keluar banyak dana tanpa hasil yang tidak pasti.
Rakyat menerima uangnya, tapi hati nuraninya apakah memilihnya? Belum tentu. Daripada
melakukan hal yang merugikan untuk sesuatu yang tidak pasti seperti itu,
mending sekalian bayar mahal ke IT KPU Pusat atau KPUD. Bayar mahal, mereka
urus, pasti terpilih. Selesai. Tanpa harus kampanye repot keluar dana banyak
tak teratur.
TUGAS II ILMU BUDAYA DASAR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar