Senin, 28 April 2014

Seandainya saya Caleg.....


Bicara soal pemilu 2014 adalah bicara tentang pemilu yang menyedihkan dan membuat penasaran. Menyedihkan karena pemilu ini sepi, senyap, gegap gempita hanya di kampanye saja itupun tidak se-“gebyar” tahun 2004 atau 2009. Mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhiyono saat sambutan awal tahun 2014 tidak membahas pemilu sama sekali juga salah satu indikator bahawa pemilu itu senyap. Membuat penasaran ialah saat orang-orang menanti, apakah “Jokowi Effect” terjadi atau tidak, dan kenyataannya, tidak terjadi karena perolehan suara PDIP tidak seperti survey internal PDIP yang kurang lebiih 23%-an namun kenyataan hanya 19%, itu suatu bukti bahwa “Jokowi Effect” tidak terjadi. Ngomong-ngomong soal Jokowi Effect, itu adalah partai atau caleg yang menampilkan wajah Jokowi, suaranya menggelembung naik.
Bicara soal caleg, banyak caleg 2014 yang tanpa komitmen untuk menyejahterakan rakyat.  Ada nama yang disebut dalam persidangan menerima sejumlah uang, ada yang tercatat sebagai bekas terpidana kasus korupsi, juga ada yang ingin membubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Para caleg tersebut di antaranya terlibat korupsi, melanggar HAM, pelecehan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga. Kampanye caleg yang dimulai 16 Maret dan berakhir 5 April 2014, sama sekali tidak menarik bagi para pemilih. Kampanye hanya menambah kesemrawutan jalan dengan jutaan atribut kampanye, membuat kemacetan, sampah dimana-mana. Kebanyakan yang ikut kampanye juga karena adanya uang sogok dari tim sukses partai atau caleg tersebut. Jadi bagi mereka yang ikut kampanye, mungkin hanya meramaikan jalanan yang penting dapat uang dan tidak memperdulikan siapa caleg atau partainya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, terlebih jika terkait dengan urusan politik di Indonesia ini. Maka saat seorang calon anggota legislatif (caleg) dituntut mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya, harus siap keluar banyak dana untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan tim suksesnya. Seorang caleg secara mendadak dipaksa atau terpaksa menjadi dermawan. Memberi macam-macam kebutuhan rakyat seperti sembako, al-quran, kerudung, obat-obatan, kaos hingga uang tunai yang biasanya perorang sampai 50ribu. Pemberian tersebut kepada masyarakat dimaksudkan supaya beliau menjadi seorang dewan besar Indonesia yang bekerja di gedung unik di daerah terkenal di Jakarta Pusat. Dan pemberian itu semata-mata hanyalah sebuah pencitraan.
Seadaannya saya jadi caleg saya akan berkampanye lewat media sosial, seperti twitter, facebook, path, instagram, bahkan ask.fm dan membuat video program saya nantinya di YouTube, karena kebanyakan rakyat lebih peduli dengan lingkungannya di dunia maya daripada dunia nyata. Lewat sosial media, kampanye dapat nonstop 24 jam, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat calon pemilih yang kebanyakan pegguna sosial media apalagi para pemilih pemula atau pemilih muda. Kampanye lewat sosial media juga tidak terlalu mengeluarkan dana yang tidak penting seperti untuk baliho atau sepanduk yang akhirnya hanya menjadi sampah yang menempel di jalan raya atau di pohon-pohon yang mengganggu lingkungan. Selain itu saya juga akan blusukan turun ke lapangan, ke pasar, ke pelabuhan, ke perkampungan, berhadapan langsung dengan rakyat tapi tanpa sogok-sogokan atau serangan fajar. Percuma adanya serangan fajar, keluar banyak dana tanpa hasil yang tidak pasti. Rakyat menerima uangnya, tapi hati nuraninya apakah memilihnya? Belum tentu. Daripada melakukan hal yang merugikan untuk sesuatu yang tidak pasti seperti itu, mending sekalian bayar mahal ke IT KPU Pusat atau KPUD. Bayar mahal, mereka urus, pasti terpilih. Selesai. Tanpa harus kampanye repot keluar dana banyak tak teratur.
  
TUGAS II ILMU BUDAYA DASAR 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar