Kamis, 19 November 2015

Pembentukan Jabodetabek Transportation Authority (JTA).

http://www.slideshare.net/ahmaddyusuf/kerja-sama-pemerintah-dengan-swasta?from_action=saveProyek Pembangunan Infrastruktur yang Melibatkan Pemerintah dan Perusahaan Swasta

Infrastruktur publik dapat didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan ekonomi dan masyarakat, yakni sebagai pendukung aktivitas ekonomi dan sosial suatu negara. Infrastukur publik dapat dapat dibagi menjadi infrastruktur ekonomi (seperti fasilitas transportasi dan utilitas jaringan air dan listrik) dan infrastruktur sosial (seperti sekolah, rumah sakit, perpustakaan dan rumah tahanan). Infrastruktur publik juga dapat dibedakan menjadi hard infrastructure, yakni yang melibatkan penyediaan gedung-gedung dan fasilitas fisik lainnya, dan soft infrastructure, yakni terkait penyediaan pelayanan atau jasa.
Pemerintah memainkan peran penting dalam penyediaan infrastruktur publik dengan alasan bahwa:
  • Sektor swasta tidak dapat memperhitungkan eksternalitas yakni manfaat ekonomi dan sosial, oleh karena itu diperlukan keterlibatan sektor publik.
  • Tanpa keterlibatan pemerintah, infrastruktur yang seharusnya tersedia bebas untuk semua orang tidak akan dibangun, terutama dimana ini melibatkan jaringan seperti jalan raya atau pelayanan seperti lampu penerangan jalan.
  • Persaingan dalam penyediaan infrastruktur mungkin tidak efisien, dan monopoli penyediaannya membutuhkan beberapa bentuk kontrol publik.
  • Bahkan dimana persaingan dimungkinkan, sektor publik harus tetap menyediakan merit goods, yakni sesuatu yang sebaliknya akan kurang disediakan seperti sekolah, bagi yang kaya akan dapat membayar sekolah swasta, tapi yang miskin tidak dapat memperoleh pendidikan.
  • Infrastruktur membutuhkan sebuah investasi awal yang tinggi yang hanya pengembalian jangka sangat panjang yang dapat diharapkan. Merupakan hal yang sulit untuk mengumpulkan modal swasta untuk investasi ini tanpa dukungan dari sektor publik.
Pemerintah dalam menjalankan peranannya senantiasa berupaya menyediakan barang dan pelayanan yang baik untuk warganya terutama dalam penyediaan infrastruktur. Penyediaan infrastruktur merupakan tanggung jawab pemerintah bagi warga negaranya karea infrastruktur tidak hanya dipandang sebagai public goods tetapi lebih kepada economic goods, oleh karena itu,  pemerintah memiliki kepentingan untuk membangun infrastruktur yang penting bagi masyarakat.
Pembangunan infrastruktur sendiri dapat dilakukan dengan berbagai pola antara lain:
  • Proyek Pemerintah Pusat/Daerah yang dibiayai oleh APBN/APBD. Pembangunannya dilaksanakan oleh BUMN/BUMD/swasta. Sumber dananya bisa melalui:
  • Rupiah murni, atau
  • Pinjaman/hibah luar negeri (lembaga multilateral/ bilateral/kredit ekspor), biasanya disertai dengan rupiah pendamping
  • Proyek BUMN/BUMD, yang dibiayai oleh anggaran perusahaan sesuai dengan RKAP yang disetujui oleh Meneg BUMN/Pemda.
  • Proyek Kerjasama Pemerintah-Swasta (Konsesi), yang dibiayai oleh modal investor swasta, pinjaman perbankan/pasar modal domestik dan luar negeri. Peran Pemerintah hanya memberikan dukungan untuk proyek yang kurang menarik minat swasta, tetapi mempunyai kelayakan ekonomi yang tinggi.
 PEMBANGUNAN JABODETABEK TRANSPORTATION AUTHORITY (JAT)


Pembangunan Light Rail Transit (LRT) di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) membutuhkan Land Transportation Authority (LTA). LTA diperlukan agar setiap keputusan yang melibatkan banyak pihak tidak harus melalui rapat terbatas, tetapi cukup diputuskan melalui LTA.
Hal itu dikemukakan Presiden RI Joko Widodo dalam Rapat Terbatas tentang High Speed Train dan LRT di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/7/2015). "Untuk mendukung terutama di Jabodetabek saya kira sudah berkali-kali saya sampaikan di Jabodetabek saya kira secara organisasi itu sangat diperlukan seperti di negara-negara lain yang namanya land transportation autority (LTA)," katanya.
Jokowi mengatakan LTA harus segera dibentuk sehingga otoritas yang berwenang dan berkuasa menjadi jelas. "Sehingga keputusan-keputusan itu tidak harus setiap saat kita rataskan seperti ini tetapi bisa diputuskan di dalam organisasi Jabodetabek land transportation otority," katanya.
Jokowi menjelaskan rencana membangun moda transportasi massal tidak boleh semakin terlambat. Soalnya, selain mahal, keterlambatan pembangunan menurut Jokowi akan menyulitkan dalam pembangunan
"Saya kira sebagai contoh MRT di Jakarta, perencanaan sudah 26 tahun tetapi karena terlambat diputuskan sehingga saat pembangunan sekarang, yang pertama juga sulit dalam pembangunannya karena kota sudah sangat padat dan kedua juga mahal karena ada pembebasan lahan," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan sekarang ini, pemerintahan DKI Jakarta juga sangat merasakan mahalnya pembelian dan pembebasan lahan. Padahal kereta api merupakan muda transportasi yang efisien dengan harga yang murah. Itu sebabnya, pembangunan transportasi kereta api menurut Jokowi harus diprioritaskan pembangunannya.Tingkat kemacetan Jakarta yang semakin tinggi, menuntut adanya pembenahan transportasi dan infrastruktur jalan yang lebih memadai. Termasuk dengan mengoptimalkan fungsi kereta yang berfungsi sebagai angkutan massal andalan masyarakat.
Selain itu, busway yang selama ini cukup efektif menjadi angkutan publik, juga diharapkan diusulkan memiliki dua jalur, dari satu jalur yang telah ada sebelumnya.
“Perlu adanya penanganan khusus untuk mengatasi kemacetan, salah satunya yaitu mengoptimalkan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek serta penambahan dua jalur busway. Upaya tersebut merupakan salah satu dari 17 langkah instruksi Wakil Presiden tentang penanganan transportasi Jabodetabek,” ujar Tulus Hutagalung, Asisten Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (21/12/2010).
Optimalisasi kedua angkutan publik itu, masuk dalam perencanaan pembentukan Jabodetabek Transportation Policy Authority (JTPA) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Pembentukan JTA tersebut diusulkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama para pakar transportasi dari Jepang serta sejumlah sekretaris daerah di Indonesia. Mengingat pertumbuhan kendaraan bermotor di Jabodetabek hingga saat ini sangat tinggi.
Berdasarkan hasil Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP) menunjukkan, kepemilikan mobil mencapai dua kali lipat lebih tinggi dari tahun 2.000 dan untuk sepeda motor mencapai empat kali lipat.
Menurutnya, permasalahan kemacetan adalah tanggung jawab berbagai pihak, sehingga diperlukan penanganan yang terintegrasi. Saat ini Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama JICA juga tengah melaksanakan program Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI).
Hasil dari JUTPI tersebut adalah sarana untuk semua pihak terkait dengan penanganan permasalahan transportasi Jabodetabek untuk saling bertukar ide dan secara bersama merumuskan rencana transportasi ke depan terutama yang berkaitan dengan pembentukan Otoritas Transportasi Jabodetabek.

Source: 
http://nasional.kompas.com/read/2010/12/22/09531152/sitemap.html
http://www.slideshare.net/ahmaddyusuf/kerja-sama-pemerintah-dengan-swasta?from_action=save

Tidak ada komentar:

Posting Komentar